20.000 Struktur Kuno Amazon Terungkap lewat LiDAR
planetearthherald – Hutan Amazon ternyata menyimpan jejak peradaban manusia dalam skala yang jauh lebih besar daripada perkiraan sebelumnya. Temuan 20.000 struktur kuno Amazon melalui pemetaan laser dari udara menunjukkan bahwa wilayah yang kini tertutup hutan lebat pernah menjadi pusat aktivitas masyarakat dengan organisasi sosial yang kompleks.
Namun, istilah “struktur” di sini perlu dipahami secara tepat. Para peneliti tidak menemukan puluhan ribu gedung batu yang masih berdiri, melainkan earthworks atau bentang tanah buatan manusia berupa parit, tanggul, geoglif, pusat upacara, dan struktur geometris lainnya yang tersembunyi di balik kanopi hutan.
Studi tersebut terbit di jurnal ilmiah Nature pada 29 Juli 2026. Penelitian yang dipimpin Martti Pärssinen dan tim internasional itu bahkan memperkirakan kawasan budaya yang mereka teliti dapat menyimpan sekitar 24.000 hingga 30.000 earthworks.
20.000 Struktur Kuno Amazon Terdeteksi dari Udara
Peneliti menggunakan teknologi LiDAR atau Light Detection and Ranging untuk melihat bentuk permukaan tanah yang sulit diamati melalui foto udara biasa. Teknologi ini memungkinkan ilmuwan memetakan kontur tanah meskipun pepohonan tropis menutupi sebagian besar permukaan.
Pada 2024, tim menjalankan survei laser udara sepanjang sekitar 4.430 kilometer. Area pemetaan mencapai kurang lebih 4.497 kilometer persegi di negara bagian Acre dan Amazonas, Brasil.
Dari survei tersebut, tim mendokumentasikan 432 earthworks. Hanya 36 struktur yang telah diketahui sebelumnya, sehingga 396 lainnya merupakan dokumentasi baru dari survei itu.
Jumlah tersebut kemudian menjadi dasar untuk membuat perkiraan yang lebih luas. Setelah menggabungkan data LiDAR dengan citra satelit dan catatan arkeologi sebelumnya, peneliti memperkirakan wilayah budaya sekitar 183.000 kilometer persegi dapat menyimpan puluhan ribu struktur buatan manusia.
Dengan demikian, angka 20.000 struktur kuno Amazon bukan hasil penghitungan satu per satu terhadap seluruh wilayah. Angka itu berasal dari pemodelan dan ekstrapolasi berdasarkan kepadatan struktur yang telah terdeteksi.
Fakta Utama Penelitian
Beberapa angka dalam penelitian menunjukkan betapa besar skala temuan tersebut:
- Survei LiDAR mencakup sekitar 4.497 km².
- Peneliti mendokumentasikan 432 earthworks.
- Sebanyak 396 struktur belum pernah didokumentasikan sebelumnya.
- Wilayah budaya yang dianalisis mencapai sekitar 183.000 km².
- Total earthworks diperkirakan sekitar 24.000–30.000.
- Populasi pada masa puncaknya diperkirakan mencapai 1,25–3 juta orang.
- Masa puncak populasi diperkirakan berlangsung sekitar 100–300 Masehi.
LiDAR Membuka “Lantai” Hutan Amazon
Kesulitan terbesar arkeolog di Amazon bukan hanya luas wilayahnya. Kanopi hutan yang rapat membuat bentuk tanah buatan manusia hampir mustahil terlihat menggunakan kamera biasa.
Citra satelit selama ini lebih efektif menemukan situs di kawasan yang telah kehilangan tutupan pohon. Akibatnya, penelitian terdahulu berpotensi memberikan gambaran yang tidak lengkap mengenai penyebaran situs arkeologi Amazon.
LiDAR menawarkan pendekatan berbeda. Alat tersebut mengirimkan pulsa laser dari pesawat, kemudian mengukur waktu yang dibutuhkan cahaya untuk kembali ke sensor.
Sebagian pulsa dapat mencapai permukaan tanah melalui celah-celah di antara daun dan cabang. Komputer kemudian mengolah jutaan titik pengukuran itu menjadi model elevasi digital.
Hasilnya, arkeolog dapat melihat pola tanggul, cekungan, parit, jalan, dan bentuk geometris yang sulit dikenali dari permukaan.
Bahkan, penelitian 2026 menemukan LiDAR mampu mengidentifikasi sekitar lima kali lebih banyak earthworks pada beberapa wilayah dibandingkan hasil pemetaan sebelumnya melalui citra satelit.
20.000 Struktur Kuno Amazon Bukan Gedung Biasa
Judul mengenai ribuan “bangunan” kuno memang terdengar dramatis. Akan tetapi, penelitian Nature menggambarkan sebagian besar temuan sebagai earthworks monumental, bukan gedung seperti rumah, istana, atau kuil batu.
Beberapa struktur membentuk lingkaran, persegi, segi empat, hingga pola geometris yang lebih kompleks. Ukuran geoglif umumnya berkisar 0,35 hingga 14 hektare, sedangkan struktur terbesar yang diketahui mendekati 50 hektare.
Paritnya juga bukan struktur kecil. Penelitian mencatat sejumlah parit memiliki lebar sekitar 9 hingga 13 meter dan kedalaman yang dapat mencapai 5 meter.
Skala tersebut menunjukkan bahwa pembuatnya membutuhkan banyak tenaga kerja. Selain itu, masyarakat yang membangunnya harus memiliki kemampuan mengatur pekerjaan, mengelola sumber daya, dan memahami bentuk geometris.
Bukan Sekadar Sistem Pertahanan
Menariknya, peneliti tidak menganggap seluruh struktur tersebut sebagai benteng.
Banyak kompleks kemungkinan berfungsi sebagai tempat pertemuan publik, pusat politik, atau lokasi kegiatan seremonial. Beberapa bahkan terhubung dengan jalan yang memperlihatkan adanya perencanaan ruang.
Karena itu, 20.000 struktur kuno Amazon memberi gambaran mengenai masyarakat yang membangun ruang sosial dalam skala besar, bukan sekadar kelompok kecil yang berpindah-pindah di tengah hutan.
Mengenal Peradaban Aquiry di Amazon
Tim penelitian menggunakan nama Aquiry untuk menyebut kompleks masyarakat multikultural yang membangun banyak geoglif tersebut di bagian barat daya Amazon.
Jejak pembangunan struktur geometris di wilayah itu mulai muncul lebih dari 2.500 tahun lalu. Analisis penanggalan menunjukkan geoglif utama kemungkinan dibangun antara sekitar 600 sebelum Masehi hingga 850 Masehi.
Namun, tidak semua struktur berasal dari periode yang sama. Beberapa gundukan permukiman berbentuk berbeda muncul jauh lebih kemudian, terutama setelah sekitar tahun 1000–1200 Masehi.
Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Amazon terus mengubah lanskap selama berabad-abad.
Pusat-pusat monumental Aquiry kemungkinan menjadi tempat masyarakat dari berbagai lokasi berkumpul. Kegiatan politik, ritual, pertukaran sosial, seni, musik, hingga aktivitas komunal mungkin berlangsung di tempat-tempat tersebut.
Tentunya, arkeolog masih membutuhkan penelitian lapangan untuk memahami fungsi setiap situs secara lebih detail.
Jutaan Orang Mungkin Pernah Menghuni Wilayah Ini
Temuan 20.000 struktur kuno Amazon juga membawa pertanyaan lebih besar: berapa banyak manusia yang hidup di kawasan itu?
Tim peneliti memperkirakan peradaban Aquiry mencapai periode populasi tinggi sekitar 100 hingga 300 Masehi. Berdasarkan jumlah pusat yang kemungkinan aktif pada waktu bersamaan serta kebutuhan tenaga kerja untuk membangun dan memeliharanya, mereka memperkirakan populasi sekitar 1,25 juta hingga 3 juta orang.
Angka tersebut bukan hasil sensus kuno. Karena itu, peneliti menyebutnya sebagai estimasi yang tetap membutuhkan pengujian lebih lanjut.
Bahkan, keterbatasan penetrasi laser berarti beberapa struktur kemungkinan tetap tidak terdeteksi. Dengan mempertimbangkan faktor tersebut, model tertentu dalam penelitian menghasilkan kemungkinan jumlah populasi yang lebih tinggi.
Meski demikian, angka konservatif 1,25–3 juta orang saja sudah mengubah gambaran lama mengenai kepadatan penduduk Amazon pra-Kolumbus.
Temuan Baru Mengubah Pandangan tentang Sejarah Amazon
Selama beberapa dekade, muncul perdebatan mengenai seberapa padat masyarakat pra-Kolumbus menghuni Amazon.
Pandangan lama sering menggambarkan bagian pedalaman sebagai lingkungan yang hanya mampu menopang komunitas kecil. Namun, perkembangan arkeologi dalam beberapa dekade terakhir terus memperlihatkan bukti permukiman, rekayasa tanah, pertanian, dan jaringan sosial yang lebih kompleks.
Studi 2023 yang terbit di Science, misalnya, memperkirakan antara 10.272 hingga 23.648 earthworks pra-Kolumbus masih tersembunyi di seluruh Amazon. Model tersebut juga menunjukkan bagian barat daya Amazon sebagai salah satu wilayah dengan potensi tertinggi.
Kemudian, penelitian 2026 menghasilkan angka yang sangat besar hanya untuk kawasan budaya Aquiry.
Dengan kata lain, satu wilayah yang luasnya kurang dari 3 persen Greater Amazonia saja mungkin memiliki jumlah earthworks yang mendekati atau bahkan melampaui perkiraan terdahulu untuk skala Amazon yang jauh lebih luas.
Karena itu, 20.000 struktur kuno Amazon bukan sekadar penambahan daftar situs arkeologi. Temuan ini berpotensi mengubah cara ilmuwan menghitung kepadatan penduduk dan memahami pola kehidupan sebelum kolonisasi Eropa.
Jejak Manusia Bisa Masih Terlihat pada Hutan Modern
Dampak peradaban kuno Amazon mungkin tidak berhenti pada struktur tanah.
Penelitian sebelumnya menemukan hubungan antara lokasi earthworks dan keberadaan sejumlah spesies pohon yang telah lama dimanfaatkan atau didomestikasi manusia. Studi Science pada 2023 menemukan 53 spesies pohon domestikasi yang memiliki hubungan signifikan dengan kemungkinan keberadaan earthworks.
Temuan itu mendukung gagasan bahwa masyarakat pra-Kolumbus tidak hanya hidup di dalam hutan. Mereka juga mengelola tanaman dan memengaruhi lanskap di sekitarnya.
Namun, hal tersebut tidak berarti seluruh Amazon merupakan hutan buatan manusia. Amazon tetap memiliki bentang alam yang sangat beragam, dan pengaruh masyarakat kuno berbeda-beda di setiap wilayah.
Yang semakin jelas, batas antara “alam liar” dan “lanskap budaya” di Amazon jauh lebih kompleks daripada anggapan lama.
Para penulis penelitian Nature bahkan menilai estimasi mengenai populasi pra-Kolumbus serta pengaruhnya terhadap tanah, struktur hutan, keanekaragaman hayati, dan beberapa model iklim patut ditinjau kembali jika pola serupa ditemukan di wilayah Amazon lainnya.
Mengapa Masih Banyak Struktur yang Belum Ditemukan?
Teknologi LiDAR memang sangat kuat. Namun, alat tersebut tidak otomatis membuat seluruh permukaan Amazon terlihat sempurna.
Pada beberapa jalur survei, vegetasi terlalu rapat sehingga jumlah pulsa laser yang mencapai tanah tidak mencukupi untuk menghasilkan model detail. Peneliti juga menemukan wilayah tertentu yang hampir tidak memiliki earthworks.
Kondisi itu membuka dua kemungkinan. Pertama, struktur memang tidak terdapat di beberapa kawasan. Kedua, teknologi masih gagal mendeteksinya akibat kondisi kanopi.
Selain itu, tim penelitian tidak memasukkan sejumlah wilayah adat kontemporer ke dalam basis datanya. Peneliti juga tidak mempublikasikan lokasi tepat beberapa situs yang berada di kawasan masyarakat adat.
Pendekatan tersebut penting karena situs arkeologi yang baru diketahui dapat menghadapi risiko penjarahan atau kerusakan apabila koordinatnya tersebar tanpa perlindungan.
20.000 Struktur Kuno Amazon Buka Babak Baru Arkeologi
Penemuan 20.000 struktur kuno Amazon memperlihatkan betapa sedikitnya bagian masa lalu hutan tropis terbesar dunia yang telah dipahami manusia.
LiDAR kini memungkinkan arkeolog membaca permukaan tanah tanpa harus membuka hutan secara besar-besaran. Dengan teknologi serupa, kemungkinan besar lebih banyak jalan, geoglif, tanggul, pusat upacara, dan jejak permukiman akan muncul dalam penelitian mendatang.
Lebih penting lagi, temuan ini mengingatkan bahwa sejarah Amazon bukan hanya sejarah alam. Jutaan manusia kemungkinan pernah hidup, bekerja, bercocok tanam, berkumpul, dan membentuk lanskap tersebut jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.
Karena itu, melindungi Amazon juga berarti menjaga arsip sejarah manusia yang masih tersembunyi di bawah pepohonan.
